C L E M E N T I N E
BABAK 1
Angin berhembus membelai kota Paris sore itu. Seorang ibu berjalan menyusuri jalanan lengang tepat di depan sungai Seine. Sambil menggendong anak kecil yang tertidur pulas di pundaknya yang dibanjiri peluh. Pikirannya melayang entah ke mana. Kakinya terus membawa badannya dengan tertatih-tatih. Matanya menatap lurus ke depan. Tatapannya kosong. Ia hanya berharap akankah ada secercah kebahagiaan yang akan ia temukan di akhir jalan panjang yang ia tempuh…….
[terjatuh, anaknya pun menangis]
Malam harinya……
[Seorang bapak berjalan menuju ke mobilnya, dan ia menemukan ibu yang tergeletak itu. Anaknya duduk di sampingnya sambil menangis. Namun, bapak tersebut tidak menghiraukannya, dan terus berjalan. Sampai akhirnya, anak itu merengek memohon bantuan darinya. Ia pun berbalik arah dan menghampiri mereka.]
Tn. Arthagrandes (Ar) : “Apa yang terjadi dengan ibumu, nak?”
Clementine (C) : (terus menangis, menatap ibunya)
Ar : “Ayo, kita bawa ibumu ke rumah sakit!”
o0o
BABAK 2
15 tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi gadis remaja yang ceria. Ia bernama Clementine Avogadro.
C : “Kak, cepetan dong, Papa udah nunggu nih!”
Aurora (Au) : “ Iya, sebentar!”
[pintu kamar dibuka]
Au : “Girl, it’s show time!” (mulai menari bersama Clei)
[Tn. Arthagrandes menghampiri mereka, dari samping]
Ar : (batuk) “Ehm, ayo kita sarapan!”
C & Au: “Oke Papa!”
[Di meja makan . .]
C : “Papa, makasih ya Tje Fuk-nya! Aku sudah pakai tuh.”
Ar : “Tentu saja, nak. Terima kasih kembali.”
C : “O my god, buku aku tertinggal! Pa, aku ambil ke atas dulu ya.”
Ar : “Iya, iya. Tapi cepat, sebentar lagi kita akan berangkat.”
Au : (tiba-tiba meletakkan pisau dan garpunya) “Pa, aku mau Tje Fuk seperti punya Clei!”
Ar : “Kenapa?”
Au : “Karena wanita ingin dimengerti.”
Ar : “Kamu ini ngawur saja, buat apa kamu beli yang seperti itu, lebih baik kamu tabung saja uangnya.”
Au : “Kenapa Clei boleh, sedangkan aku? Mau beli segitu aja kok nggak boleh? Papa pilih kasih! Padahal Clei kan cuma anak angkat!!”
Ar : (menampar Aurora)
C : (baru turun, langsung menjatuhkan bukunya)
Ar : “Clei, se..sejak kapan kamu di situ?”
C : (tanpa berkata-kata, langsung menangis dan lari)
Ar : “Clei, tunggu!” (terjatuh, lalu bangkit lagi)
Au : “Clei . .!”
C : (terpeleset) “Aduh!” (bangun, lalu lari lagi)
o0o
BABAK 3
Clei berlari..dan terus berlari.. Berlari,, berlari,, terus,, dan terus berlari.. Berlari lagi… (Ehm..ehm, mas minta minum dong? Kerongkongan kering nih.) [diam sejenak] Oke, kita lanjutkan lagi! Hingga akhirnya …..
Ebi Furai (F) : (duduk di bangku taman, sambil mendengarkan musik)
C : (menghela napas, lalu duduk di bangku yang sama)
F : (memberi botol air mineral pada Clei tanpa melihat wajahnya )
C : (mengambil botolnya, sambil melirik Ebi Furai)
[hening sesaat ….]
F : (bersandar pada bangku, lalu memejamkan mata)
C : “Hmmm, makasih ya!”
F : (pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun)
C : “Tunggu! Aku bahkan belum tahu nama kamu!”
F : (bingung) “Nani mite no?”
[iklan : “Bingung nikmatin film kamu?” (memencet tombol remote)]
[REWIND]
C : “Tunggu! Aku bahkan belum tahu nama kamu!”
F : “Kamu nggak perlu tahu nama aku!”
C : “Kenapa?”
F : “Karena kamu terlalu baik untuk aku!”
C : (diam, lalu jongkok dan menangis)
F : (berbalik, berjalan mendekati Clei dan membantunya bangkit)
C & F : (duduk lagi berdua)
F : “Sebenarnya, kamu siapa?”
C : “Aku Clementine. Kamu?”
F : “Watashi no namae wa Ebi Furai tomoshimasu.”
C : “Oh, Ebi Furai. Aku juga bisa sih bahasa Jepang, walaupun cuma sedikit.”
F : (tersenyum) “Ada perlu apa ke sini?”
C : “Aku…aku ke sini untuk mencari keluargaku.”
F : “Keluarga? Memangnya mereka semua di mana?”
C : “Justru itu, aku nggak tahu!”
F : “Sebenarnya, apa yang terjadi?”
C : “Baru-baru ini,” (mulai menangis) “aku tahu bahwa aku ini hanyalah anak angkat...”
F : (menatap dengan penuh rasa prihatin)
C : “Ternyata, orangtua yang selama ini mengasuhku bukan orangtua kandungku! Sejak itu, aku kabur dari rumah.”
F : “Rumahmu di mana?”
C : “Di…. Paris.”
F : “APA??!! PARIS??!! Wow! Lalu bagaimana kamu bisa sampai di sini?”
C : “Aku lari dari rumah, dan terus berlari, hingga akhirnya aku sampai di bandara. Oleh petugas bandara, aku dikira penumpang yang akan naik pesawat…”
F : “Lalu?”
C : “Akhirnya aku ada di pesawat tujuan Tokyo. Setelah sampai di bandara, aku pun langsung panik dan terus berlari, dan akhirnya aku bertemu kamu…”
F : (menatap dengan takjub dan kagum; bengong)
C : (menyadarkan Ebi Furai) “Hello? Kok bengong?”
F : “Oh, eh, maaf. Tadi sampai mana?”
C : “Sampai situlah. Aku juga lupa tuh.”
F : “Terus, kamu mau nyari keluarga kandung kamu?”
C : “Mungkin.”
F : “Tapi di mana? Kan kamu nggak tahu mereka ada di mana. Atau mungkin….”
C : “Mungkin apa?”
F : “Mmm, atau mungkin mereka udah ninggalin kamu di dunia ini.”
C : (mulai menangis) “Kamu jahat!!”
F : “Bukannya jahat, tapi bisa jadi kan? Sekarang aja kamu nggak tahu keadaan mereka gimana…”
C : “Kamu mau bantuin aku kan, mencari mereka?”
F : (berpikir sejenak) “Tapi kamu pasti capek kan? Lebih baik kamu istirahat dulu di rumahku.”
C : “Nggak ngerepotin?”
F : “Nggak lah. Tenang aja.”
C : “Makasih banyak ya!”
Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Ebi Furai. Ah, masih ada hari esok untuk mencari keluargaku, pikir Clementine. Ia pun memutuskan untuk beristirahat di rumah orang yang baru dikenalnya itu.
o0o
BABAK 4
Di rumah keluarga udang, ups, keluarga Ebi maksudku…..
Ebi Katsu (K) : (masak sambil bernyanyi) “Mawar merah, penuh gairah, seiring cemburu…..”
F : “Tadaima! Ibu, aku pulang!”
K : (menghampiri Ebi Furai) “Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang!” (menatap Clei curiga)
F & C : (tersenyum)
F : “Mmm… Eh, bu, kenalkan, ini Clementine. Dia dari Paris.”
K : “Paris?”
F : “Begini bu. Dia mau mencari keluarga kandungnya, karena selama ini ternyata dia diasuh oleh orangtua angkat.”
K : “Lalu, kenapa harus mencari jauh-jauh ke Jepang?”
F : “Ceritanya panjang bu. Sudahlah, sekarang biarkan ia beristirahat dulu. Kasihan dia, pasti capek.”
K : “Oke. Tunggu sebentar ya, ibu siapkan makan malam.”
{Tapi, sebelum kembali ke dapur, Ebi Katsu menelepon Ebi Soozu (S) dulu}
K : “Aduh, teleponnya mana sih? Nah, ini dia. ” (memencet tombol)
S : “Halo?”
K : “Halo, Ayah? Cepat pulang, sekarang juga!”
S : “Memangnya ada apa bu? Kok panik begitu?”
K : “Furai. Sudah pulang terlambat, malah bawa gadis Perancis lagi ke sini.”
S : “APA??!! O my god. Baiklah, aku pulang sekarang.”
K : “Baiklah, sudah ya.”
{klik; telepon terputus}
[Ebi Katsu kembali ke dapur, masak lagi]
S : “Aku pulang!”
K : “Wah, ayah sudah pulang…”
S : “Mana Furai??!!! Dasar anak tak tahu diuntung!!” (mulai marah)
K : “Sabar Yah… Dia sedang mandi.”
S : “Furai…… Furai!!!!” (mencari-cari sambil memanggil)
[Ebi Furai keluar dari kamar mandi]
S : “Kamu!!!! Kamu, yang sudah menanam benih, sekarang malah kau bawa kesini!!”
K : “Sabar Yah…. Dengar dulu penjelasannya.”
F : “Ayah ngomong apa sih? Benih? Kita kan bukan keluarga petani.”
S : “CUKUP FURAI!!! BELUM PUAS KAMU MENGHANCURKAN KELUARGA KITA, HAH?!!!!”
K : “Tunggu dulu Yah, dengar dulu penjelasannya.”
S : “Penjelasan apa lagi bu? Ini semua sudah jelas!”
[Clei membuka pintu, dan langsung terbelalak]
F : “Baiklah, kalau itu memang cucu Ayah, lalu kenapa Yah??!! Apa bedanya?! Itu kan darah daging ayah juga!
K : “Benar Yah. Kita kan bisa merawatnya bersama-sama.”
S : “Mmmh, jangan bercanda bu! Mana mungkin kita bisa merawat anak haram seperti itu?!”
F : “Anak haram? Maksud Ayah? Lihat tanda ini!” (membuka bajunya)
[Clei buru-buru menutup pintu]
S & K : “ APA??!!”
S : (memegang dadanya, sambil mau jatuh ke lantai)
K : “Ayah…. Ayah……. Sadar Ayah!!!!!”
[Clei membuka pintunya lagi]
C : (menghampiri Ebi Soozu) “Om… Om…..!!!!” (panik)
K : “Dasar wanita picik! Ini semua gara-gara kau!”
F : “Iya, dasar kau picik, licik, dan bersisik!”
K : “PERGI KAU!! JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI DI RUMAH INI LAGI!!!!”
S : (membuka matanya) “Gimana akting Ayah? Bagus kan?”
C : (bingung; kaget; semua campur aduk)
F : “Tentu saja. Ibu juga bagus tuh.”
K : “Kau juga, anakku. Berarti kita berpotensi untuk dapat Piala Citra.”
F : “Piala Citra? Apa itu, bu? Di Jepang tidak ada yang seperti itu.” (semuanya tertawa, kecuali Clei yang masih kebingungan)
[bel berbunyi]
S : (bangkit, sambil merapikan kemejanya) “Ya, tunggu sebentar. Ibu, tolong bukakan pintunya.”
K : “Haii!” (langsung menuju pintu)
S : “Wah, anak Ayah sudah dewasa ya….. Kemampuan aktingmu sudah bertambah baik.”
Di pintu…….
Magdalaine (M) : “Sumimasen… Saya tetangga sebelah Anda yang baru.” (sambil membawa kue)
K : “Oh.. Salam kenal. Dozo yoroshiku onegaishimasu. Kami keluarga Ebi. Oh iya, namaku Ebi Katsu. Jika butuh bantuan, datang saja ke sini.
M : “Perkenalkan, saya Magdalaine. Terimalah ini sebagai tanda perkenalan.”
K : “Domo arigato gozaimasu. Mari masuk!”
S : “Siapa yang datang bu?”
K & M : (menuju ruang tamu, bertemu Ebi Furai, Ebi Soozu, dan Clei)
M : (menatap Clei, menjatuhkan tasnya)
K : “Kenapa bu?” (menyadarkan Magdalaine)
M : “Kamu…. Saya seperti mengenalmu….. Bahkan sangat dekat….. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
[hening….]
F : “Maksud ibu, saya?”
M : “Bukan, tapi gadis di sebelahmu.”
C : (heran)
M : “Ah, sudah lupakan saja. Perkenalkan, saya Magdalaine, tetangga baru kalian.”
Semua : “Salam kenal…..”
o0o
BABAK 5
Pikiran Clei masih berkecamuk. Entah apa maksud perkataan Magdalaine malam itu.
S : “Ayah berangkat dulu ya!”
F : “Pergi dulu Yah, Bu!”
C : “Hati-hati ya!”
K : “Mmm, Clei, mau ikut tante belanja ke pasar?”
C : “Nggak deh, tan. Clei mau istirahat aja di rumah. Sambil nunggu Furai….” (tersipu)
K : “Hmm, dasar anak muda. Ya sudah, tante pergi dulu ya!” (berjalan pergi sambil bernyanyi)
M : (keluar rumahnya, sambil membawa jemuran) “Pagi, Clei.”
C : “Pagi, tante…”
M : “Ehm.. Clei, tante boleh bertanya?”
C : “Tanya? Siapa itu tan? Aku nggak kenal.”
M : “Maksud Tante, Tante ingin menanyakan sesuatu padamu.”
C : “Ooh… Silakan, tan! Anytime.”
M : “Apa kau berasal dari Paris?”
C : (bengong) “Da…darimana tante tahu?”
M : “Jadi benar? Kalau begitu, di mana orangtuamu?”
C : “Tante, jika ini hanya basa basi, lebih baik tante hentikan.”
M : “Oh, maaf. Maafkan Tante, Clei! Dulu, tante pernah punya anak di Paris.”
C : “Hah? Maksud tante?”
M : “Dulu tante tinggal di Paris. Keluarga tante sangatlah miskin. Pada umur 22 tahun, tante menikah dengan seorang pecandu narkoba, dan memiliki seorang anak gadis, cantik sekali.”
C : (menatap Magdalaine penuh kasih)
M : “Kalau sekarang dia masih hidup, mungkin dia seumuran kamu. Tapi, suatu ketika, Tante tidak menyadari bahwa dia hilang saat kecelakaan itu…. Aduh, tante jadi menangis nih. Maaf ya Clei.”
C : (matanya berkaca-kaca, dan langsung tersadar) “Oh. Kalau begitu, Clei permisi dulu ya tante.”
o0o
[terjatuh, anaknya pun menangis]
Malam harinya……
[Seorang bapak berjalan menuju ke mobilnya, dan ia menemukan ibu yang tergeletak itu. Anaknya duduk di sampingnya sambil menangis. Namun, bapak tersebut tidak menghiraukannya, dan terus berjalan. Sampai akhirnya, anak itu merengek memohon bantuan darinya. Ia pun berbalik arah dan menghampiri mereka.]
Tn. Arthagrandes (Ar) : “Apa yang terjadi dengan ibumu, nak?”
Clementine (C) : (terus menangis, menatap ibunya)
Ar : “Ayo, kita bawa ibumu ke rumah sakit!”
o0o
BABAK 2
15 tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi gadis remaja yang ceria. Ia bernama Clementine Avogadro.
C : “Kak, cepetan dong, Papa udah nunggu nih!”
Aurora (Au) : “ Iya, sebentar!”
[pintu kamar dibuka]
Au : “Girl, it’s show time!” (mulai menari bersama Clei)
[Tn. Arthagrandes menghampiri mereka, dari samping]
Ar : (batuk) “Ehm, ayo kita sarapan!”
C & Au: “Oke Papa!”
[Di meja makan . .]
C : “Papa, makasih ya Tje Fuk-nya! Aku sudah pakai tuh.”
Ar : “Tentu saja, nak. Terima kasih kembali.”
C : “O my god, buku aku tertinggal! Pa, aku ambil ke atas dulu ya.”
Ar : “Iya, iya. Tapi cepat, sebentar lagi kita akan berangkat.”
Au : (tiba-tiba meletakkan pisau dan garpunya) “Pa, aku mau Tje Fuk seperti punya Clei!”
Ar : “Kenapa?”
Au : “Karena wanita ingin dimengerti.”
Ar : “Kamu ini ngawur saja, buat apa kamu beli yang seperti itu, lebih baik kamu tabung saja uangnya.”
Au : “Kenapa Clei boleh, sedangkan aku? Mau beli segitu aja kok nggak boleh? Papa pilih kasih! Padahal Clei kan cuma anak angkat!!”
Ar : (menampar Aurora)
C : (baru turun, langsung menjatuhkan bukunya)
Ar : “Clei, se..sejak kapan kamu di situ?”
C : (tanpa berkata-kata, langsung menangis dan lari)
Ar : “Clei, tunggu!” (terjatuh, lalu bangkit lagi)
Au : “Clei . .!”
C : (terpeleset) “Aduh!” (bangun, lalu lari lagi)
o0o
BABAK 3
Clei berlari..dan terus berlari.. Berlari,, berlari,, terus,, dan terus berlari.. Berlari lagi… (Ehm..ehm, mas minta minum dong? Kerongkongan kering nih.) [diam sejenak] Oke, kita lanjutkan lagi! Hingga akhirnya …..
Ebi Furai (F) : (duduk di bangku taman, sambil mendengarkan musik)
C : (menghela napas, lalu duduk di bangku yang sama)
F : (memberi botol air mineral pada Clei tanpa melihat wajahnya )
C : (mengambil botolnya, sambil melirik Ebi Furai)
[hening sesaat ….]
F : (bersandar pada bangku, lalu memejamkan mata)
C : “Hmmm, makasih ya!”
F : (pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun)
C : “Tunggu! Aku bahkan belum tahu nama kamu!”
F : (bingung) “Nani mite no?”
[iklan : “Bingung nikmatin film kamu?” (memencet tombol remote)]
[REWIND]
C : “Tunggu! Aku bahkan belum tahu nama kamu!”
F : “Kamu nggak perlu tahu nama aku!”
C : “Kenapa?”
F : “Karena kamu terlalu baik untuk aku!”
C : (diam, lalu jongkok dan menangis)
F : (berbalik, berjalan mendekati Clei dan membantunya bangkit)
C & F : (duduk lagi berdua)
F : “Sebenarnya, kamu siapa?”
C : “Aku Clementine. Kamu?”
F : “Watashi no namae wa Ebi Furai tomoshimasu.”
C : “Oh, Ebi Furai. Aku juga bisa sih bahasa Jepang, walaupun cuma sedikit.”
F : (tersenyum) “Ada perlu apa ke sini?”
C : “Aku…aku ke sini untuk mencari keluargaku.”
F : “Keluarga? Memangnya mereka semua di mana?”
C : “Justru itu, aku nggak tahu!”
F : “Sebenarnya, apa yang terjadi?”
C : “Baru-baru ini,” (mulai menangis) “aku tahu bahwa aku ini hanyalah anak angkat...”
F : (menatap dengan penuh rasa prihatin)
C : “Ternyata, orangtua yang selama ini mengasuhku bukan orangtua kandungku! Sejak itu, aku kabur dari rumah.”
F : “Rumahmu di mana?”
C : “Di…. Paris.”
F : “APA??!! PARIS??!! Wow! Lalu bagaimana kamu bisa sampai di sini?”
C : “Aku lari dari rumah, dan terus berlari, hingga akhirnya aku sampai di bandara. Oleh petugas bandara, aku dikira penumpang yang akan naik pesawat…”
F : “Lalu?”
C : “Akhirnya aku ada di pesawat tujuan Tokyo. Setelah sampai di bandara, aku pun langsung panik dan terus berlari, dan akhirnya aku bertemu kamu…”
F : (menatap dengan takjub dan kagum; bengong)
C : (menyadarkan Ebi Furai) “Hello? Kok bengong?”
F : “Oh, eh, maaf. Tadi sampai mana?”
C : “Sampai situlah. Aku juga lupa tuh.”
F : “Terus, kamu mau nyari keluarga kandung kamu?”
C : “Mungkin.”
F : “Tapi di mana? Kan kamu nggak tahu mereka ada di mana. Atau mungkin….”
C : “Mungkin apa?”
F : “Mmm, atau mungkin mereka udah ninggalin kamu di dunia ini.”
C : (mulai menangis) “Kamu jahat!!”
F : “Bukannya jahat, tapi bisa jadi kan? Sekarang aja kamu nggak tahu keadaan mereka gimana…”
C : “Kamu mau bantuin aku kan, mencari mereka?”
F : (berpikir sejenak) “Tapi kamu pasti capek kan? Lebih baik kamu istirahat dulu di rumahku.”
C : “Nggak ngerepotin?”
F : “Nggak lah. Tenang aja.”
C : “Makasih banyak ya!”
Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Ebi Furai. Ah, masih ada hari esok untuk mencari keluargaku, pikir Clementine. Ia pun memutuskan untuk beristirahat di rumah orang yang baru dikenalnya itu.
o0o
BABAK 4
Di rumah keluarga udang, ups, keluarga Ebi maksudku…..
Ebi Katsu (K) : (masak sambil bernyanyi) “Mawar merah, penuh gairah, seiring cemburu…..”
F : “Tadaima! Ibu, aku pulang!”
K : (menghampiri Ebi Furai) “Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang!” (menatap Clei curiga)
F & C : (tersenyum)
F : “Mmm… Eh, bu, kenalkan, ini Clementine. Dia dari Paris.”
K : “Paris?”
F : “Begini bu. Dia mau mencari keluarga kandungnya, karena selama ini ternyata dia diasuh oleh orangtua angkat.”
K : “Lalu, kenapa harus mencari jauh-jauh ke Jepang?”
F : “Ceritanya panjang bu. Sudahlah, sekarang biarkan ia beristirahat dulu. Kasihan dia, pasti capek.”
K : “Oke. Tunggu sebentar ya, ibu siapkan makan malam.”
{Tapi, sebelum kembali ke dapur, Ebi Katsu menelepon Ebi Soozu (S) dulu}
K : “Aduh, teleponnya mana sih? Nah, ini dia. ” (memencet tombol)
S : “Halo?”
K : “Halo, Ayah? Cepat pulang, sekarang juga!”
S : “Memangnya ada apa bu? Kok panik begitu?”
K : “Furai. Sudah pulang terlambat, malah bawa gadis Perancis lagi ke sini.”
S : “APA??!! O my god. Baiklah, aku pulang sekarang.”
K : “Baiklah, sudah ya.”
{klik; telepon terputus}
[Ebi Katsu kembali ke dapur, masak lagi]
S : “Aku pulang!”
K : “Wah, ayah sudah pulang…”
S : “Mana Furai??!!! Dasar anak tak tahu diuntung!!” (mulai marah)
K : “Sabar Yah… Dia sedang mandi.”
S : “Furai…… Furai!!!!” (mencari-cari sambil memanggil)
[Ebi Furai keluar dari kamar mandi]
S : “Kamu!!!! Kamu, yang sudah menanam benih, sekarang malah kau bawa kesini!!”
K : “Sabar Yah…. Dengar dulu penjelasannya.”
F : “Ayah ngomong apa sih? Benih? Kita kan bukan keluarga petani.”
S : “CUKUP FURAI!!! BELUM PUAS KAMU MENGHANCURKAN KELUARGA KITA, HAH?!!!!”
K : “Tunggu dulu Yah, dengar dulu penjelasannya.”
S : “Penjelasan apa lagi bu? Ini semua sudah jelas!”
[Clei membuka pintu, dan langsung terbelalak]
F : “Baiklah, kalau itu memang cucu Ayah, lalu kenapa Yah??!! Apa bedanya?! Itu kan darah daging ayah juga!
K : “Benar Yah. Kita kan bisa merawatnya bersama-sama.”
S : “Mmmh, jangan bercanda bu! Mana mungkin kita bisa merawat anak haram seperti itu?!”
F : “Anak haram? Maksud Ayah? Lihat tanda ini!” (membuka bajunya)
[Clei buru-buru menutup pintu]
S & K : “ APA??!!”
S : (memegang dadanya, sambil mau jatuh ke lantai)
K : “Ayah…. Ayah……. Sadar Ayah!!!!!”
[Clei membuka pintunya lagi]
C : (menghampiri Ebi Soozu) “Om… Om…..!!!!” (panik)
K : “Dasar wanita picik! Ini semua gara-gara kau!”
F : “Iya, dasar kau picik, licik, dan bersisik!”
K : “PERGI KAU!! JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI DI RUMAH INI LAGI!!!!”
S : (membuka matanya) “Gimana akting Ayah? Bagus kan?”
C : (bingung; kaget; semua campur aduk)
F : “Tentu saja. Ibu juga bagus tuh.”
K : “Kau juga, anakku. Berarti kita berpotensi untuk dapat Piala Citra.”
F : “Piala Citra? Apa itu, bu? Di Jepang tidak ada yang seperti itu.” (semuanya tertawa, kecuali Clei yang masih kebingungan)
[bel berbunyi]
S : (bangkit, sambil merapikan kemejanya) “Ya, tunggu sebentar. Ibu, tolong bukakan pintunya.”
K : “Haii!” (langsung menuju pintu)
S : “Wah, anak Ayah sudah dewasa ya….. Kemampuan aktingmu sudah bertambah baik.”
Di pintu…….
Magdalaine (M) : “Sumimasen… Saya tetangga sebelah Anda yang baru.” (sambil membawa kue)
K : “Oh.. Salam kenal. Dozo yoroshiku onegaishimasu. Kami keluarga Ebi. Oh iya, namaku Ebi Katsu. Jika butuh bantuan, datang saja ke sini.
M : “Perkenalkan, saya Magdalaine. Terimalah ini sebagai tanda perkenalan.”
K : “Domo arigato gozaimasu. Mari masuk!”
S : “Siapa yang datang bu?”
K & M : (menuju ruang tamu, bertemu Ebi Furai, Ebi Soozu, dan Clei)
M : (menatap Clei, menjatuhkan tasnya)
K : “Kenapa bu?” (menyadarkan Magdalaine)
M : “Kamu…. Saya seperti mengenalmu….. Bahkan sangat dekat….. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
[hening….]
F : “Maksud ibu, saya?”
M : “Bukan, tapi gadis di sebelahmu.”
C : (heran)
M : “Ah, sudah lupakan saja. Perkenalkan, saya Magdalaine, tetangga baru kalian.”
Semua : “Salam kenal…..”
o0o
BABAK 5
Pikiran Clei masih berkecamuk. Entah apa maksud perkataan Magdalaine malam itu.
S : “Ayah berangkat dulu ya!”
F : “Pergi dulu Yah, Bu!”
C : “Hati-hati ya!”
K : “Mmm, Clei, mau ikut tante belanja ke pasar?”
C : “Nggak deh, tan. Clei mau istirahat aja di rumah. Sambil nunggu Furai….” (tersipu)
K : “Hmm, dasar anak muda. Ya sudah, tante pergi dulu ya!” (berjalan pergi sambil bernyanyi)
M : (keluar rumahnya, sambil membawa jemuran) “Pagi, Clei.”
C : “Pagi, tante…”
M : “Ehm.. Clei, tante boleh bertanya?”
C : “Tanya? Siapa itu tan? Aku nggak kenal.”
M : “Maksud Tante, Tante ingin menanyakan sesuatu padamu.”
C : “Ooh… Silakan, tan! Anytime.”
M : “Apa kau berasal dari Paris?”
C : (bengong) “Da…darimana tante tahu?”
M : “Jadi benar? Kalau begitu, di mana orangtuamu?”
C : “Tante, jika ini hanya basa basi, lebih baik tante hentikan.”
M : “Oh, maaf. Maafkan Tante, Clei! Dulu, tante pernah punya anak di Paris.”
C : “Hah? Maksud tante?”
M : “Dulu tante tinggal di Paris. Keluarga tante sangatlah miskin. Pada umur 22 tahun, tante menikah dengan seorang pecandu narkoba, dan memiliki seorang anak gadis, cantik sekali.”
C : (menatap Magdalaine penuh kasih)
M : “Kalau sekarang dia masih hidup, mungkin dia seumuran kamu. Tapi, suatu ketika, Tante tidak menyadari bahwa dia hilang saat kecelakaan itu…. Aduh, tante jadi menangis nih. Maaf ya Clei.”
C : (matanya berkaca-kaca, dan langsung tersadar) “Oh. Kalau begitu, Clei permisi dulu ya tante.”
o0o
BABAK 6
Percaya atau tidak, di situlah kebahagiaan Clei ditemukan. Dalam sinar rembulan dan terik matahari Clei berjalan menuju puncak bersama Keluarga Ebi, disaat serigala mengaum bak sonata kehidupan yang acap kali menimbulkan luka yang tak dapat disembuhkan. Memang, ini adalah cobaan yang berat bagi Clei yang masih berjiwa labil.
C : (mondar-mandir, sambil memegang telepon genggamnya)
F : “Kamu kenapa Clei?”
C : “Telepon…. nggak…. telepon…. nggak…..”
F : “Pasti kamu kepikiran keluarga angkatmu kan? Sudah, hubungi saja mereka.”
C : “Tapi, aku takut.”
F : “Mereka pasti mengkhawatirkanmu. Ayolah, jangan takut.”
C : (memencet tombol, mencoba menelepon rumah Tn. Arthagrandes)
Au : “Halo?”
C : “Ka….kak Aurora? Ini Clei, kak.”
Au : “Clei….. Ini benar kamu, Clei?? Clei, di mana kamu?” (mulai sesenggukan)
C : “Aku… Eh, kakak apa kabarnya? Gimana Papa?”
Au : “Aku kangen kamu, Clei. Papa juga. Tapi.. kamu dimana?”
C : “Aku di… di Jepang.”
Au : “APA??!! JEPANG??!!”
C : “Sudah dulu ya kak.”
Au : “Tapi, tunggu Clei! Jepang sebelah mana? Clei!!
{klik; telepon terputus}
F : “Kenapa kamu tutup teleponnya?”
C : (tidak menjawab)
[bel berbunyi]
K : “Ya, tunggu sebentar. Siapa sih?” (membukakan pintu) “Oh, bu Magdalaine. Ada apa bu?”
M : “Tidak apa-apa, bu. Saya hanya ingin berkunjung saja. Ngomong-ngomong, mana Clei?”
K : “Ada. Tuh, di dalam. Ayo masuk, bu.”
C : “Eh, ada tante. Silakan duduk, Tan.”
M : “Makasih Clei. Kamu baik sekali.” (sambil mengelus-elus kepala Clei)
C : “Ah, Tante bisa aja.”
M : (terperanjat, setelah melihat tanda di kepala Clei)
C : “Tan…tante kenapa?”
M : “Eh, oh, nggak apa-apa. Tante jadi ingat anak tante yang waktu itu tante ceritakan itu…”
C : “Ohh…”
M : “Dia mirip sekali denganmu, Clei.”
Tak salah lagi, pikir Magdalaine. Clementine pasti anakku. Dia punya bekas luka di kepalanya, sama seperti anakku. Dan wajahnya sangat mirip dengan ayahnya…….
o0o
BABAK 7
Kita kembali ke Perancis…….
Au : “Pa, ayo kita ke Jepang!”
Ar : “Iya, Papa tahu. Tapi, gimana caranya kita bisa menemukan Clei? Jepang itu luas, Aurora.”
Au : “Ya iya lah. Maksudnya, kan Papa bisa minta tolong teman-teman Papa yang orang Jepang, atau gimana lah terserah Papa. Yang penting Clei ketemu.”
Ar : “Oh iya! Papa baru ingat. Teman lama Papa ada yang tinggal di Jepang, dan sekarang dia menjadi direktur di sebuah perusahaan.”
Au : “Ya sudah, minta tolong saja!”
Malam silih berganti. Mentari telah memancarkan sinarnya berulang kali. Sampai akhirnya, titik cerah itu pun akan segera tiba…..
o0o
BABAK 8
Kembali lagi ke Negeri Sakura…
M : “Pak Ebi Soozu! Buka pintunya, pak!” (terburu-buru, sambil membawa selembar kertas)
S : “Ada apa bu? Pagi-pagi begini sudah bertamu.”
M : “Ada hal penting yang harus saya bicarakan.”
S : “Tentang apa? Kemampuan akting saya?
M : “Bukan… bukan itu. Tapi…….”
S : “Tapi apa?”
M : “Coba baca ini, Pak!”
S : (mengamati isi selebaran)
M : “Jadi begini, Pak. Teman direktur di tempat saya bekerja sedang mencari anaknya yang hilang. Katanya, tolong disebarkan, siapa tahu memang pernah ditemukan.”
S : “Tapi, apa yang bisa membantu? Ini selebaran yang hanya menyebutkan ciri-ciri anak itu. Emang nggak ada fotonya?”
M : “Oh, katanya besok menyusul.”
S : “Hah? Pengumuman yang aneh…….”
Keesokan harinya….
[bel berbunyi]
M : “Ya, sebentar.” (membuka pintu) “Hmm, Anda siapa ya?”
Au : “Oh, maaf. Perkenalkan, saya Aurora. Saya datang dari Perancis, untuk mencari adik saya.”
M : “Putri dari Tuan Arthagrandes? Wah, mari, silakan masuk.”
Au : “Terimakasih, bu.”
M : “Kok sendirian? Di mana ayahmu?”
Au : “Ayah? Oh, Papa masih di hotel, tapi sebentar lagi beliau menyusul.”
Ar : “Permisi… Spada…….”
Au : “Itu pasti Papa.”
M : “Wah, Tuan Arthagrandes.” (berjalan untuk membukakan pintu)
Ar : (terkejut)”Ibu,, bernama Magdalaine?”
M : “Ya, benar. Mari masuk.”
Arthagrandes pun mengungkapkan semuanya. Dan Magdalaine tak meragukan lagi, bahwa Clementine adalah anak kandung yang selama ini dicarinya.
[Arthagrandes, Magdalaine, dan Aurora terlibat pembicaraan yang serius mengenai Clementine. Tak terelakkan lagi, tangis Magdalaine pecah seketika. Ia pun berlari keluar rumahnya. Arthagrandes dan Aurora mengejarnya.]
M : (berjalan, sambil merenungi perkataan Arthagrandes yang terngiang-ngiang di kepalanya)
Ar : “Malam itu, aku baru pulang kerja. Terlihat seorang ibu terkapar di tepi sungai Seine, bersama anaknya yang duduk dan menangis di sebelahnya. Aku rawat anak itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Hingga dia sudah cukup besar, dan mengerti apa yang terjadi sesungguhnya. Dan….dan anak itu adalah Clementine, putri kandungmu…..”
Tiba-tiba…
K : “Ibu Magda, tunggu!! Dengar dulu penjelasan kita!!”
Au : “Kita?”
S : “Biar bagaimanapun juga, Magdalaine, semua itu hanya sebuah skenario!”
Ar : “Hei, kenapa kalian ikut campur?!”
K : “DIAM KAU ARTHA!! Aku seorang ibu…. Aku tahu rasanya dibegitukan!”
Au : “Hei, Ibu! Dengar dulu, masalah ini tidak ada hubungannya dengan Ibu!!”
K : “SHUT YOUR MOUTH!! Kau pikir aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, hah?!”
Au : “Hmm, maksud bibi?”
K : “Kau adalah…. kau adalah… wanita simpanan Syaiful Jamil!!!
Au&Ar: “APA??!!”
Au : “Maksud bibi apa?”
F : “Ibu!! Cukup Ibu! Kenapa ibu tega mengungkap aib ini?!”
K : “Jadi, kau tahu tentang ini? Kenapa kau diam saja?!”
S : “STOPPPP!!!!! Cukup, bu!”
M : “Te..terima kasih, Tuan! Telah menjaga putriku selama ini…”
K : (memegang kepalanya, lalu hampir jatuh)
Ar : “Magdalaine, maafkan aku! Aku tidak berniat seperti itu! Aku hanya menyelamatkan kau dan anakmu…..”
[Tiba-tiba Clementine datang]
F : (terkejut) “C…Clei?!”
S : “O my god!”
C : “Tante…. jadi, tante adalah…. Ibu kandungku?????”
M : “Iya, sayang.” (mereka pun berpelukan dan menangis)
[Keluarga Ebi menatap penuh sukacita dan haru]
C : “Papa…. Kak Aurora……!!”
Au : “Clei….!” (sambil memeluk Clei)
S : “Sudah, sekarang biarkan mereka melepas rindu. Kita masuk, yuk!” (masuk ke dalam diikuti Ebi Katsu dan Ebi Furai)
K : “Ternyata dunia begitu sempit ya. Aduh, Ibu jadi terharu…”
F : “Berarti…. Clei udah nggak tinggal di sini lagi dong?”
S : “Memangnya kenapa?”
K : “Biasa lah, Yah. Anak muda.” (tersenyum)
S : “Kalau itu sih gampang. Walaupun Clei udah pulang ke Paris, kita bisa nyusul kok ke sana….”
K : “Gratis, lagi!! Kan ada Pak Arthagrandes Lussac.”
F : “Kok bisa? Tapi nggak apa-apa deh. Yang penting bisa ke Paris!”
C : “Furai!!”
F : (berbalik, menghadap Clei)
C : “Makasih ya, buat semuanya. Om sama tante juga. Kalau nggak ada kalian, aku nggak mungkin bisa ketemu mereka…”
F : “Berterimakasihlah pada Tuhan, karena kamu bisa berada di tengah orang-orang yang menyayangimu…..”
Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup seorang Clementine Avogadro. Tuan Arthagrandes dan Aurora membawa Clei dan ibunya untuk tinggal bersama di Paris. Namun, karena kanker pankreas yang sudah lama diderita Magdalaine, akhirnya ia meninggalkan Clementine untuk selama-lamanya, tidak seperti saat ia diasuh oleh keluarga barunya………
Tapi itu tak membuatnya terlarut dalam kesedihan. Karena kehangatan keluarga yang selama ini dicarinya, sudah ia dapatkan kembali. Ia pun menyadari, bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga, yang tidak akan tergantikan oleh apapun juga……
T A M A T
cast
● Clementine Avogadro (Annisa Shabrina Puspadini)
● Aurora Lavoisier (Afina Nur Aprilia)
● Arthagrandes Lussac (Fachrul Riyadi)
● Magdalaine Newlands (Feny Anisa Setia)
● Ebi Furai (Agung Suryadi)
● Ebi Soozu (Rega Permana)
● Ebi Katsu (Maydariana Ayuningtyas)
● Aurora Lavoisier (Afina Nur Aprilia)
● Arthagrandes Lussac (Fachrul Riyadi)
● Magdalaine Newlands (Feny Anisa Setia)
● Ebi Furai (Agung Suryadi)
● Ebi Soozu (Rega Permana)
● Ebi Katsu (Maydariana Ayuningtyas)
hmmmmm begitulah cerita di balik cerita drama gue kali ini. see you and have a wild dream rawrr! :D selamat malam, samelekum!
